"Tubuhnya renta. Berlapis kain yang lusuh dengan rambut putih nyaris
botak. Dengan senyum yang tak lagi segar setelah digerus roda zaman kali
berkali. Tak pernah lelah ia menggendong kehidupan di balik kelembutan
yang dulu sering terbantah."
Demikianlah penggalan puisi Hambas Dekil berjudul "Sujud", di Pekanbaru, Sabtu (22/12).
Hambas
alias Hambali merupakan sesosok anak warga Minas, Kabupaten Siak, Riau,
dari bundanya yang baru saja berangkat ke Aceh malam tadi (Jumat
21/12). Keseharian, sang anak ini bekerja sebagai pewarta tulis di
Tribun Pekanbaru. Sisa lajangnya ditekadkan untuk membahagiakan kedua
orang tuanya, khusus untuk sang bunda.
Mengulas kisah sang bunda lewat "kaca mata" Hambas yang bersyair pula,
"Bunda, diusia senjanya tak pelak menjadi halangan. Walau paras cantik
dahulu menjadi taruhan. Peran kasih sayang paling sempurna tetap
dilakukan."
"Ia (bunda), tak peduli pada dinginnya hujan,
teriknya mentari dan debu jalanan. Wajah lembut itu selalu tertambat
dihati. Pada ceruk yang paling sunyi. Dibalik kenyamanan pelukan dan
belaian sendu yang tak pernah berubah sejak masih disusu."
Hambas,
pria lajang yang menginginkan harapan sang ibu tercapai, juga mengenang
kisah puitis tentang sujudnya, "Ibu, kupersembahkan sujud di balik
tapak kaki yang dulu menemaniku. Ciuman pada tangan renta yang biasa
membelaiku. Dan peluk rindu pada tubuh yang melahirkanku."
Hambas, mengaku tema puisi berjudul "Sujud" merupakan limpahan atas kecintaannya terhadap sang bunda yang kini berumur 52 tahun.
Kata
kunci "Sukses" menjadi dambaan sang bundanya yang berangsur menua itu.
Hambas, kini tengah berjuang untuk kesuksesan yang menjadi harapan
bundanya. "Semoga sukses, Hambas..."
Kecintaan terhadap bunda
juga dituangkan Rio, sesosok remaja yang kini mencoba meraih mimpi
kehidupannya, demi kebahagiaan wanita yang telah melewati kepenatan
sepanjang hidup.
"Ibu, kau lah inspirasi hidupku. Kau begitu
berharga untukku. Kau penerang di setiap langkahku. Ibu, betapa besar
pengorbananmu untukku. Jasamu tak akan pernah terbalas dengan apa pun,"
demikian Rio dalam coretan puisinya yang tanpa judul.
Rio
sebelumnya sempat menempuh perjuangan hidup di Pekanbaru, juga bekerja
sebagai "kuli tinta". Namun haluan perjuangan itu diubahnya demi
keutuhan kecintaannya terhadap sang bunda.
Ibu, maafkan aku yang
pernah membuatmu terluka, menyakiti hatimu. Tanpa lelah kau berjuang
membesarkanku. Berikan yang terbaik untukku."
"Ibu, ada kekuatan
doa yang engkau titipkan. Lewat Tuhan, membuat semua tergila bila diri
ini rapuh dan jatuh tak berdaya. Ada surga ditelapak kakimu. Betapa
besar arti dirimu. Buka pintu maafmu saat kulukai hatimu. Hanya lewat
restumu, terbuka pintu ke surga untukku."
Ungkapan puitis itu
diakui Rio merupakan "cahaya hatinya" atas kecintaan terhadap sang
bunda. Bunda yang melahirkan, membesarkan dan kini menaruh harapan batin
untuknya. Remaja lajang yang tengah mengusahakan permintaan akhir sang
bunda berupa istri nan soleha.
Dengan Cinta
Vernando
pun puitis, "Ada seorang yang sangat mencintaiku. Seorang yang
mengasihiku dengan caranya sendiri. Tidak pernah marah bahkan ketika aku
salah. Hanya menegur dengan penuh kasih. Adalah seorang yang
menunjukkan kepeduliannya lewat sesuatu yang tidak tergantikan."
Vernando adalah pria dengan kasih yang juga tengah berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi ayah dan bundanya.
Ia
mengaku tiada hari tanpa berpikir bagaimana memberikan yang terbaik
bagi sang bunda. Meski terkadang, banyak hal yang membuat dirinya lupa
akan kepahlawanan bundanya yang mulai mengalami kerapuhan raga.
"Ketika
kecil, kita bermanja di dadanya saat lelah. Ketika remaja, kita
menangis dipelukannya saat kita sedang dalam kelabilan. Ketika dewasa,
kita direlakannya untuk terbang bebas lepas. Kadang kita lupa kasih
sayangnya ketika kita mulai mengenal cinta yang lain. Tapi dia tidak
akan memaksa harus dicintai sebesar dia mencintaimu," demikian Vernando
dalam puisinya untuk sang bunda tercinta.
Namun Tommy, justru mencintai bundanya dengan mencoreng puisi berjudul "Mama Pembohong".
Mungkinkah seorang mama dalam hidupnya membuat kebohongan..?
Tommy
pun menuliskan, saat makan, jika makanan kurang, Mama akan memberikan
makanan itu kepada anaknya dan berkata, "Cepatlah makan, mama tidak
lapar."
Sebuah kebohongan, namun apakah kebohongan itu sebuah kebodohan..?
Karena
menurut Tommy, sang mama ketika makan, juga selalu menyisihkan ikan dan
daging untuk anaknya sembari berkata, "Mama tidak suka daging,
makanlah, nak.."
Bahkan di tengah malam saat dia (mama) sedang
menjaga anaknya yang tengah sakit, tak khayal berkata, "Istirahatlah
nak, mama masih belum ngantuk.."
Kemudian di saat anak sudah
tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu, menutut dia, Mama
selalu berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu nak, mama masih punya
uang..."
Hingga saat anak sudah sukses, demikian Tommy dalam
ceritanya, ia (anak) mencoba untuk menjemput ibunya untuk tinggal di
rumah besar, namun bunda kembali berbohong dengan menyatakan, "Rumah tua
kita sangat nyaman, mama tidak terbiasa tinggal di sana..."
Santun
kebohongan itu kian membara, ketika menjelang tua renta tubuhnya,
ibupun mengalami sakit keras. Sang anak akan menangis. Namun mama masih
bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, mama tidak apa-apa."
Ini adalah kebohongan terakhir yang dibuat mama sebelum menghembuskan
nafas menghadap sang Khalik.
Bunda, seluruh anak-anakmu mengucapkan selamat untukmu. Di Hari Ibu
ini, tiada ungkapan yang laik kami persembahkan untukmu kecuali
penggalan puisi tentang kecintaanmu terhadapku'. Selamat Hari Ibu...
(Aantarabengkulu.com)
™(y)™
BalasHapus