Jumat, 21 Desember 2012

Wajah Ibu dalam puisi anak-anakmu

"Tubuhnya renta. Berlapis kain yang lusuh dengan rambut putih nyaris botak. Dengan senyum yang tak lagi segar setelah digerus roda zaman kali berkali. Tak pernah lelah ia menggendong kehidupan di balik kelembutan yang dulu sering terbantah."

Demikianlah penggalan puisi Hambas Dekil berjudul "Sujud", di Pekanbaru, Sabtu (22/12).

Hambas alias Hambali merupakan sesosok anak warga Minas, Kabupaten Siak, Riau, dari bundanya yang baru saja berangkat ke Aceh malam tadi (Jumat 21/12). Keseharian, sang anak ini bekerja sebagai pewarta tulis di Tribun Pekanbaru. Sisa lajangnya ditekadkan untuk membahagiakan kedua orang tuanya, khusus untuk sang bunda.

Mengulas kisah sang bunda lewat "kaca mata" Hambas yang bersyair pula, "Bunda, diusia senjanya tak pelak menjadi halangan. Walau paras cantik dahulu menjadi taruhan. Peran kasih sayang paling sempurna tetap dilakukan."

"Ia (bunda), tak peduli pada dinginnya hujan, teriknya mentari dan debu jalanan. Wajah lembut itu selalu tertambat dihati. Pada ceruk yang paling sunyi. Dibalik kenyamanan pelukan dan belaian sendu yang tak pernah berubah sejak masih disusu."

Hambas, pria lajang yang menginginkan harapan sang ibu tercapai, juga mengenang kisah puitis tentang sujudnya, "Ibu, kupersembahkan sujud di balik tapak kaki yang dulu menemaniku. Ciuman pada tangan renta yang biasa membelaiku. Dan peluk rindu pada tubuh yang melahirkanku."

Hambas, mengaku tema puisi berjudul "Sujud" merupakan limpahan atas kecintaannya terhadap sang bunda yang kini berumur 52 tahun.

Kata kunci "Sukses" menjadi dambaan sang bundanya yang berangsur menua itu. Hambas, kini tengah berjuang untuk kesuksesan yang menjadi harapan bundanya. "Semoga sukses, Hambas..."

Kecintaan terhadap bunda juga dituangkan Rio, sesosok remaja yang kini mencoba meraih mimpi kehidupannya, demi kebahagiaan wanita yang telah melewati kepenatan sepanjang hidup.

"Ibu, kau lah inspirasi hidupku. Kau begitu berharga untukku. Kau penerang di setiap langkahku. Ibu, betapa besar pengorbananmu untukku. Jasamu tak akan pernah terbalas dengan apa pun," demikian Rio dalam coretan puisinya yang tanpa judul.

Rio sebelumnya sempat menempuh perjuangan hidup di Pekanbaru, juga bekerja sebagai "kuli tinta". Namun haluan perjuangan itu diubahnya demi keutuhan kecintaannya terhadap sang bunda.

Ibu, maafkan aku yang pernah membuatmu terluka, menyakiti hatimu. Tanpa lelah kau berjuang membesarkanku. Berikan yang terbaik untukku."

"Ibu, ada kekuatan doa yang engkau titipkan. Lewat Tuhan, membuat semua tergila bila diri ini rapuh dan jatuh tak berdaya. Ada surga ditelapak kakimu. Betapa besar arti dirimu. Buka pintu maafmu saat kulukai hatimu. Hanya lewat restumu, terbuka pintu ke surga untukku."

Ungkapan puitis itu diakui Rio merupakan "cahaya hatinya" atas kecintaan terhadap sang bunda. Bunda yang melahirkan, membesarkan dan kini menaruh harapan batin untuknya. Remaja lajang yang tengah mengusahakan permintaan akhir sang bunda berupa istri nan soleha.

  
Dengan Cinta
Vernando pun puitis, "Ada seorang yang sangat mencintaiku. Seorang yang mengasihiku dengan caranya sendiri. Tidak pernah marah bahkan ketika aku salah. Hanya menegur dengan penuh kasih. Adalah seorang yang menunjukkan kepeduliannya lewat sesuatu yang tidak tergantikan."

Vernando adalah pria dengan kasih yang juga tengah berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi ayah dan bundanya.

Ia mengaku tiada hari tanpa berpikir bagaimana memberikan yang terbaik bagi sang bunda. Meski terkadang, banyak hal yang membuat dirinya lupa akan kepahlawanan bundanya yang mulai mengalami kerapuhan raga.

"Ketika kecil, kita bermanja di dadanya saat lelah. Ketika remaja, kita menangis dipelukannya saat kita sedang dalam kelabilan. Ketika dewasa, kita direlakannya untuk terbang bebas lepas. Kadang kita lupa kasih sayangnya ketika kita mulai mengenal cinta yang lain. Tapi dia tidak akan memaksa harus dicintai sebesar dia mencintaimu," demikian Vernando dalam puisinya untuk sang bunda tercinta.

Namun Tommy, justru mencintai bundanya dengan mencoreng puisi berjudul "Mama Pembohong".

Mungkinkah seorang mama dalam hidupnya membuat kebohongan..?
Tommy pun menuliskan, saat makan, jika makanan kurang, Mama akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, "Cepatlah makan, mama tidak lapar."
Sebuah kebohongan, namun apakah kebohongan itu sebuah kebodohan..?

Karena menurut Tommy, sang mama ketika makan, juga selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya sembari berkata, "Mama tidak suka daging, makanlah, nak.."

Bahkan di tengah malam saat dia (mama) sedang menjaga anaknya yang tengah sakit, tak khayal berkata, "Istirahatlah nak, mama masih belum ngantuk.."

Kemudian di saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu, menutut dia, Mama selalu berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu nak, mama masih punya uang..."

Hingga saat anak sudah sukses, demikian Tommy dalam ceritanya, ia (anak) mencoba untuk menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, namun bunda kembali berbohong dengan menyatakan, "Rumah tua kita sangat nyaman, mama tidak terbiasa tinggal di sana..."

Santun kebohongan itu kian membara, ketika menjelang tua renta tubuhnya, ibupun mengalami sakit keras. Sang anak akan menangis. Namun mama masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, mama tidak apa-apa." Ini adalah kebohongan terakhir yang dibuat mama sebelum menghembuskan nafas menghadap sang Khalik.

Bunda, seluruh anak-anakmu mengucapkan selamat untukmu. Di Hari Ibu ini, tiada ungkapan yang laik kami persembahkan untukmu kecuali penggalan puisi tentang kecintaanmu terhadapku'. Selamat Hari Ibu...  (Aantarabengkulu.com)

1 komentar: