Festival Tabot, sebuah perayaan religi yang digelar masyarakat Bengkulu untuk menyambut Tahun Baru Hijriah baru saja usai.
Harapan pemerintah untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Bengkulu lewat festival tahunan itu belum berbuah manis.
"Belum
sesuai harapan, karena sebagian besar pengunjung adalah masyarakat
lokal, kabupaten dan kota," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Provinsi Bengkulu, Hasanudin.
Meski Festival Tabot sudah masuk dalam kalender wisata nasional,
ternyata even itu belum mampu menjadi ikon wisata Bengkulu yang dikenal
dengan sebutan "Bumi Rafflesia".
Dia mengatakan, Pemerintah Kota
Bengkulu saja menargetkan 1 juta orang wisatawan setelah merilis Kota
Bengkulu sebagai kota tujuan wisata pada awal 2012, namun belum
terealisasi.
"Bahkan Kota Bengkulu sudah masuk dalam jaringan
kota pusaka bersama 46 kabupaten dan kota lainnya di Indonesia, belum
mampu membuat Bengkulu sebagai daerah tujuan wisata," tambahnya.
Hasanudin
mengatakan meski tingkat kunjungan wisatawan belum sesuai harapan,
namun peningkatan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu jumlah wisatawan
domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bengkulu sebanyak 210.751
orang pada 2009 meningkat menjadi 225.494 orang pada 2010 dan bertambah
menjadi 227.276 orang pada 2011.
"Peningkatan jumlah wisatawan
ini cukup positif jika dibandingkan pada 2006 dimana jumlah wisatawan ke
Bengkulu hanya 77 ribu orang," katanya.
Upaya yang belum berbuah manis itu tidak membuat Disparbud Provinsi Bengkulu patah arang.
Pada
rapat koordinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu
dengan kabupaten dan kota yang digelar 19 Desember 2012, kolaborasi
kabupaten dan kota terus didorong untuk meningkatkan promosi wisata.
Pada rapat koordinasi itu juga dibahas tentang arah dan kebijakan pengembangan pembangunan kepariwisataan daerah itu.
Dinas kabupaten dan kota sebagai pemilik wilayah terus didorong untuk menetapkan lokasi wisata andalan.
"Promosi
objek wisata dari 10 kabupaten dan kota akan kami gelar di Jakarta pada
Maret 2013 untuk memperkenalkan pariwisata Bengkulu," katanya.
Memasukkan
sektor pariwisata dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah
tahun 2010-2015 diharapkan menjadi salah langkah baik membangun sektor
kepariwisataan.
Kurang promosi
Menurut
Wakil Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi
Bengkulu Gusnan Mulya, objek-objek wisata yang ada di daerah itu kurang
promosi sehingga belum mampu menarik wisatawan domestik maupun
mancanegara.
"Promosi sangat kurang sehingga objek wisata Bengkulu yang cukup berkualitas tidak dikenal luas," katanya.
Promosi pariwisata menurutnya salah satu kunci untuk mengenalkan sektor pariwisata Bengkulu ke masyarakat luas.
"Memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tapi ini menjadi investasi bagi daerah," tambahnya.
Selain
melalui berbagai media, promosi juga dapat dilakukan dengan menggelar
berbagai even berskala nasional bahkan internasional di Bengkulu.
Selain promosi, kondisi infrastruktur, terutama jalan juga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
"Sebagian
besar jalan menuju lokasi wisata sangat buruk, sehingga promosi tanpa
disertai kesiapan sarana prasarana penunjang juga tidak maksimal,"
tambahnya.
Menurut Gusnan, dari penjualan paket-paket wisata di Provinsi Bengkulu, wisata alam dan sejarah yang paling menonjol.
Wisata
alam seperti pantai panjang dan ekowisata ke kawasan Pusat Konservasi
Gajah (PKG) Seblat dan wisata sejarah di Kota Bengkulu.
"Asita
bahkan sudah mempromosikan ekowisata khususnya habitat bunga rafflesia
dan gajah Sumatra ke Berlin, Jerman awal tahun ini," katanya.
Eksotisme flora dan fauna hutan tropis Sumatra yang masih dapat ditemui di habitatnya mampu menarik wisatawan ke daerah itu.
Selain
itu, benteng Marlborough peninggalan kolonial Inggris dan rumah
pengasingan Bung Karno di Bengkulu juga menjadi objek wisata sejarah
yang cukup dikenal dan selalu dipenuhi wisatawan.
Tiga agenda nasional
Untuk
meningkatkan kunjungan wisata ke daerah ini, Sekretaris Disparbud
Provinsi Bengkulu, Asril mengatakan sudah menyusun tiga agenda berskala
nasional yang akan digelar pada 2013.
Dalam perencanaan dinas itu, tiga agenda tersebut akan digelar Juni, September dan November 2013.
Agenda
pertama yakni "Festival Bumi Rafflesia" pada Juni 2013 yang berisi
berbagai kegiatan antara lain membatik kolosal, pemilihan putri
pariwisata Provinsi Bengkulu, "Bengkulu Expo" yang digelar Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM.
Dalam festival
tersebut juga akan digelar pergelaran budaya Bengkulu, pameran
hortikultura yang digelar Dinas Pertanian, dan lomba cipta lagu daerah.
"Ada
juga kompetisi treatlon dan off-road," tambahnya.dan "Rafflesia Beach
Festival" yang digelar untuk memeriahkan hari pariwisata se-dunia.
Agenda
kedua, "Rafflesia Beach Festival" pada September 2013 akan diisi dengan
berbagai lomba bidang olahraga pantai seperti surfing atau selancar,
voli pantai, dan lomba kuliner laut.
Pada festival ini juga
digelar pemilihan Bujang Gadis Bengkulu, pameran "kemilau Sumatra", dan
pemilihan putri pesisir yang diselenggarakan Dinas Kelautan dan
Perikanan.
Sedangkan "Festival Tabot" pada November 2013 akan
melombakan tari kreasi baru Melayu se-Sumbagsel, karnaval mobil hias,
lomba nasyid se-Sumbagsel, sarasehan budaya daerah dan pemilihan putri
busana Muslim.
Hasanudin mengatakan seluruh agenda wisata tersebut diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah ini. (Sumber: Antarabengkulu.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar